SIGI, – Menurunnya debit air Sungai Paneki yang berada di perbatasan Desa Pombewe dan Desa Loru, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, berdampak signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan air masyarakat setempat.
Kondisi ini semakin terasa sejak pasca bencana 2018, yakni disaat Pemerintah membangun Hunian Tetap (Huntap) di Desa Pombewe bagi para korban terdampak. Pasalnya, Sungai Paneki yang sebelumnya menjadi sumber utama air bagi masyarakat sekitar, kini juga dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan air di kawasan Huntap melalui pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).
Kepala Desa Loru, Agus Prianto, mengatakan keberadaan SPAM tersebut turut mempengaruhi distribusi debit air ke wilayah desanya, terutama saat musim kemarau tiba.
“Sejak Huntap berdiri dan dibangun SPAM di Sungai Paneki, secara otomatis debit air yang mengalir ke Desa Loru berkurang. Olehnya kami Pemerintah Desa berinisiatif untuk melakukan program pemasangan sumur bor bagi warga. Hal ini merupakan langkah solutif yang kami lakukan,” ujar Agus, Sabtu (18/4).
Saat ini di Desa Loru, telah dibangun enam unit sumur bor, masing-masing dua unit pada 2023 dan empat unit pada 2024.
“Namun, enam sumur bor tersebut masih belum mampu memenuhi kebutuhan air seluruh warga,” jelasnya.
Tentunya keterbatasan pasokan air tersebut sangat berdampak pada sektor pertanian. Kades Agus menyebutkan, sekitar 325 hektare lahan sawah tidak mendapatkan aliran air secara optimal, sehingga alami kekeringan.
Dari jumlah tiga ratusan Haktera tersebut, 25 Hektare di antaranya telah beralih fungsi menjadi lokasi usaha sarang burung walet dan pembangunan properti.
“Pada tahun lalu, kondisi ini bahkan menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen,” tambahnya.
Menanggapi persoalan tersebut, kini Dinas Pertanian setempat berencana menambah lima titik sumur bor khusus untuk mendukung kebutuhan air di sektor pertanian. Meski demikian, lokasi pemasangannya masih dalam tahap perencanaan.
Pemerintah Desa Loru berharap rencana tersebut dapat segera direalisasikan agar aktivitas pertanian masyarakat dapat kembali berjalan normal.
“Kami berharap program ini segera terlaksana, sehingga petani bisa kembali berproduksi seperti biasa,” tutup Agus. (*)




