SIGI – Setelah hampir 18 tahun berdiri sebagai daerah otonomi, Pemerintah Kabupaten Sigi hingga kini baru memiliki tiga unit armada Pemadam Kebakaran (Damkar). Armada tersebut terdiri dari dua unit mobil pompa (fire engine) dan satu unit mobil tangki penyuplai air, dengan dukungan 48 personel tenaga Damkar.
Jumlah ini dinilai jauh dari kebutuhan ideal, jika dibandingkan dengan luas wilayah Kabupaten Sigi yang mencakup daerah perkotaan hingga pelosok pegunungan. Secara ideal, Sigi setidaknya membutuhkan empat pos Damkar, dengan setiap pos dilengkapi satu unit mobil pemadam dan satu unit mobil suplai air.
Kondisi keterbatasan ini disampaikan langsung oleh Kepala Pemadam Kebakaran Kabupaten Sigi, Ambar, SSTP, saat ditemui Fakta Lensa di ruang kerjanya, Selasa (03/02).
“Saat ini seluruh personel Damkar masih terpusat di kantor induk Desa Bora. Konsekuensinya, jika terjadi kebakaran di wilayah yang cukup jauh, waktu tempuh kami menjadi lebih lama. Padahal sesuai SOP, idealnya 15 menit setelah laporan masuk, kami sudah harus tiba di lokasi kejadian,” ujar Ambar.
Untuk menutup keterbatasan tersebut, pihak Damkar Kabupaten Sigi saat ini menjalin kerja sama lintas wilayah dengan Damkar Kota Palu.
“Jika lokasi kebakaran berada di wilayah yang berdekatan dengan Kota Palu, kami sangat terbantu dengan dukungan armada dari Damkar Kota Palu,” jelasnya.
Meski demikian, Ambar menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan. Ia berharap usulan penambahan armada dan pembentukan pos-pos Damkar baru dapat segera direalisasikan oleh pemerintah daerah.
“Penambahan armada bukan sekadar kebutuhan institusi, tapi bentuk kehadiran negara dalam melindungi masyarakat. Respons cepat bisa mencegah kerugian yang jauh lebih besar saat terjadi kebakaran,” tegasnya. (*)




