PALU, – Pasca aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng) Bersatu di Kantor Sekretariat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Sulteng beberapa waktu lalu, berujung pada pergantian Kepala Perwakilan Komnas HAM Sulteng.
Ketua Komnas HAM RI, Anis Hidayah S.H.,M.H., saat dikonfirmasi pada Senin (13/04) pagi, membenarkan bahwa jabatan Livand Breemer telah resmi diganti. Ia kini dikembalikan bertugas ke wilayah Provinsi Papua.
Dalam keterangannya, Anis menegaskan bahwa tuduhan yang disampaikan massa aksi saat demonstrasi tersebut terbukti benar.
“Terbukti. Namun mohon maaf, saya tidak bisa memberikan penjelasan secara detail,” ujar Anis singkat.
Pada aksi unjuk rasa sebelumnya yang menuntut pencopotan Livand Breemer dari jabatannya, karena Ia dituding memiliki kolam perendaman emas di wilayah tambang Poboya, terlibat dalam pendistribusian sianida, serta ikut dalam pengoperasian alat berat excavator di area tambang.
Selain itu, massa aksi juga menuduh bahwa kinerja Komnas HAM Sulteng di bawah kepemimpinan Livand terlalu terfokus pada isu pertambangan, sehingga dinilai kurang optimal dalam menangani persoalan lain, seperti pengawalan hak para penyintas bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi tahun 2018, khususnya terkait pemenuhan Hunian Tetap (Huntap).
Berdasarkan berbagai tuduhan dan penilaian tersebut, Komnas HAM RI kemudian mengambil kebijakan untuk melakukan penyelidikan, hingga akhirnya memberi keputusan untuk melakukan pergantian jabatan Livand.
Namun demikian, keputusan tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh Livand Breemer. Menurut Livand, selama proses klarifikasi, dirinya hanya diberi satu kali kesempatan untuk memberikan keterangan. Ia juga mengaku bahwa sejumlah bukti serta kesaksian yang diajukan sebagai pembelaan tidak mendapatkan respons. Namun menurutnya hal itu tidak menjadi soal utama.
“Mungkin ada pihak-pihak yang merasa terganggu dengan berbagai sorotan yang saya sampaikan terkait tambang emas ilegal di Sulteng, selain Poboya. Karena masalah Poboya telah mendapat kesepakatan join operation dengan pihak perusahaan,” katanya.
Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), Livand menyatakan kesiapan dirinya untuk diaudit oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), termasuk terhadap kondisi keuangan keluarganya.
“Pembuatan kolam perendaman emas membutuhkan biaya minimal ratusan juta rupiah, termasuk pembelian sianida yang nilainya puluhan juta. Saya punya uang dari mana untuk itu? Silakan PPATK audit keuangan saya,” tegasnya.
Sementara itu, seorang pengusaha berinisial S yang disebut sebagai relasi Livand dalam pembuatan kolam perendaman di Poboya, menjelaskan bahwa kolam tersebut bukanlah milik Livand.
Menurut S, kolam itu awalnya direncanakan oleh pihak lain berinisial A untuk diberikan kepada Livand sebagai bentuk ucapan terima kasih atas bantuannya dalam penyelesaian persoalan status tambang Poboya.
”Jadi saya bersaksi secara langsung, awal mulanya, Haji A (inisial,red) meminta saya untuk membuat kolam tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih atas proses fasilitasi masyarakat dalam pengurusan wilayah pertambangan rakyat (WPR). Itu atas inisiatif Haji A sendiri, karena Livand tidak pernah meminta dan bahkan sampai dengan selesai kolam itu tidak pernah digubris oleh Livand,” kata S memberikan kesaksian.
Dengan demikian, S menganggap bahwa tudingan yang dilayangkan ke Livand tidak mendasar.
”Dan sengetahuan saya, dia (Livand) tidak pernah terlibat distribusi alat berat (Eksavator) di Poboya juga penjualan sianida. Bahkan Livand menolak tawaran Miliaran rupiah dari pihak-pihak yang berkepentingan demi menjaga independensi lembaga dan membela hak masyarakat,” jelasnya.
Tidak hanya S, salah seorang operator yang diketahui berinisial Ib juga mengatakan, bahwa dirinya diminta oleh Haji A untuk mengambil gambar (foto,red) kolam yang dimaksud, namun Ia tidak mengetahui maksud dan tujuan dari permintaan tersebut.
”Belakangan setelah itu, baru saya tau bahwa foto kolam itu kemudian dikatakan milik Livand. Saya tidak tau menahu soal kolam itu milik siapa, karena saya hanya diminta untuk foto saja. Kok kenapa saya ujung ujung seperti yang disalahkan ?. Bahkan sebelumnya saya tidak kenal sama Livand,” ungkap Ib saat dihubungi via ponselnya.(*)




