PARIMO, – Di balik berdirinya SMAN 1 Balinggi, tersimpan kisah perjuangan yang lahir dari ketulusan dan kebersamaan warga Desa Suli, Kecamatan Balinggi, Kabupaten Parigi Moutong. Sosok sentral di balik cerita itu adalah I Wayan Sugita, yang kini dipercaya masyarakat Desa Suli sebagai Kepala Desa.
Tahun 2012 menjadi tonggak sejarah. Melalui Surat Keputusan Nomor 425/3213/DISDIK tertanggal 19 Juli 2012, sekolah itu resmi mendapat izin operasional dan berdiri di atas lahan kurang lebih 9.000 meter persegi.
Namun, jauh sebelum lembaran SK itu terbit, mimpi tentang sekolah menengah atas di Balinggi hanya sebatas perbincangan sederhana di bawah rindangnya pohon, saat para orang tua menunggu anak-anak mereka pulang sekolah.
Dengan penuh tekad, Sugita mengumpulkan warga, khususnya Dusun I Desa Suli, untuk bermusyawarah mencari solusi penyediaan lahan. Dalam suasana kebersamaan, warga sepakat menghibahkan tanah mereka demi masa depan generasi muda.
Keputusan itu menjadi fondasi awal berdirinya sekolah yang kini menjadi kebanggaan bersama. Tak berhenti pada penyediaan lahan, perjuangan berlanjut dengan semangat swadaya.
Bersama kepala sekolah saat itu dan masyarakat, Sugita ikut mendesain tata letak bangunan. Ruang kelas, fasilitas penunjang, hingga sarana pendukung lainnya dibangun dari gotong royong dan kepercayaan yang tumbuh kuat di tengah masyarakat.
Motivasi utamanya sederhana namun mendalam, yakni agar anak-anak Desa Suli tidak lagi harus menempuh jarak jauh ke desa lain untuk bersekolah. Faktor keselamatan dalam perjalanan pergi dan pulang sekolah menjadi pertimbangan besar.
Ia ingin generasi muda belajar dengan tenang, dekat dengan keluarga, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman.
Sugita tak pernah membayangkan, sebagai warga biasa tanpa pendidikan tinggi, ia mampu mewujudkan mimpi besar itu.
Namun kepercayaan masyarakat yang telah lama ia emban, mulai dari pengurus komite SD hingga SMP, menjadi modal sosial yang kuat.
Kini, mimpi yang dahulu hanya sebatas cerita di bawah pohon telah menjelma menjadi bangunan kokoh tempat ratusan siswa menimba ilmu. Sebuah bukti bahwa dari desa kecil, dengan niat tulus dan kebersamaan, lahir perubahan besar untuk masa depan.(*)




